MELUPAKAN
MELUPAKAN
“Kak, kenapa sih aku selalu terbayang dia? Aku nggak bisa lupain dia.” Ra menghampiri kakaknya yang tengah asyik membaca buku.
Vivian menutup bukunya, mendengarkan cerita adiknya.
“Heheheheee. Kakak mau ketawa dulu ya, Ra.”
“Huh, aku udah lupain dia, Kak. Tapi
hatiku masih inget terus sama dia. Kenapa Allah memisahkan tapi masih
membiarkan hatiku ada namanya? Itu artinya Allah masih mengizinkan aku
mencintainya kan?”
“Eits, kok gitu? Coba ditangkap dengan
benar sinyal dari Allah. Kakak tahu persis rasanya susah melupakan
karena kakak pun pernah ada di posisi itu. Tapi apakah lantas Kakak
jatuh dan membiarkan diri Kakak larut dalam drama patah hati nggak
jelas? BIG NO!”
Ra terdiam, wajahnya masih kesal. Dia
sedikit kecewa dengan respon kakaknya. Tapi ia memutuskan untuk tetap
mendengarkan nasihat kakaknya.
“Sempet sih galau, rasanya jatuh, tapi
Kakak bangkit. KAKAK MEMUTUSKAN MENGGUNAKAN ENERGI ITU UNTUK BERKARYA.
Dan energi itu besar sekali.
Perasaan boleh naik turun. Tapi bangkit adalah harga mati.”
Ra menelan ludah. Ia teringat komik
serial karya kakaknya yang kini jadi best seller. Katanya, komik itu
terwujud untuk melampiaskan sekua kecamuk hatinya. Tapi bagi Ra,
meskipun pelampiasan, komik itu terasa menenteramkan. Tidak ada nada
kebencian atau dendam di sana. Ra tertegun. Ia merasa malu pada dirinya
sendiri. Mengapa ia menuruti perasaannya begitu saja?
“Karena sejatinya kita tidak perlu
melupakan. Cukup menerima. Menerima bahwa takdir kita ya begini. Kita
dikasih sakit sama Allah lewat patah hati. Mungkin, emang kita bisanya
diingetin lewat ditampar begitu. Mungkin dari dulu kita udah tahu kalau
pacaran itu nggak boleh, berharap ke manusia itu nggak boleh, tapi atas
nama indahnya rasa jatuh cinta, jadi tutup telinga deh. Mungkin emang
Allah maunya kita sama yang lain. Alhamdulillah dikasih patah hati.
Berarti Allah masih sayang, Ra,” lanjut Vivian.
Ra mulai menangis, ia memeluk kakaknya, “Jadi Ra lagi ditampar sama Allah ya, Kak?”
“Bisa jadi.”
“Tapi kenapa hatiku masih selalu inget dia, Kak. Aku rinduuuuu banget, Kak.”
“Itu dia. Pikiran kamu dia terus sih, ya
munculnya dia di hati. Coba pikirannya diganti sama Allah. Mengenal
Allah. Kenalin sifat-Nya. Kenalin kitab-Nya. Kenalin takdir-Nya. Pasti
deh kamu nggak sempet kepikiran dia. Karena isinya Allah. Yang ada kamu
pingin jadi orang yang bermanfaat, terus berkarya, biar dipilih jadi
sebaik-baik manusia oleh Allah.”
Ra menangis makin deras, “Iya, Kak. Aku
nggak berhak menyalahkan siapapun. Memang aku yang bebal banget. Masih
aja kepoin dia. Masih aja nunggu dia ngehubungin lagi.”
“Nah itu makanya. Pantesan hatinya jadi nggak berdaya, orang nggak inget Allah. Ingetnya dia. Sini Kakak peluk.”
Ra membalas pelukan Vivian dengan
semakin erat. Vivian tersenyum mengingat kisahnya sendiri di masa yang
lalu. Ia mengusap rambut adiknya pelan. Sudah selayaknya hati yang sakit
itu dirawat, diobati, ditata emosinya, disalurkan menjadi karya yang
bermanfaat, dinikmati dengan bahagia. Bukan hanya ditutup lukanya,
apalagi ditahan perihnya.
“So, Dear. Nggak usah larut dalam perasaan sedih tersayat ‘oh dia kejam sekali menyakiti hati saya’ atau ‘aku nggak berdaya karena rindu ini.’
Yang bikin sakit dan nggak berdaya siapa?” Vivian berbisik di telinga
adiknya yang masih memeluknya erat. Ia merasakan jilbabnya basah oleh
air mata Ra.
“Kita sendiri, Kak!” jawab Ra pelan.
“Yakin! Suatu saat Allah akan memberi
yang terbaik untuk kita. Bisa orang lain. Bisa jadi juga tetep dia orang
yang sama dengan hati yang baru. Tapiiiii… niatnya pun karena Allah. Move up! Bukan sekadar move on. Mulai membuka hati dengan berbagai kemungkinan tapi tetap Allah sebagai landasan cinta.”
Ra mengangguk. Ia melepaskan pelukannya pelan-pelan.
“Kak, bantuin, Ra, ya. Ra mau bahagia kayak Kakak.”
Vivian tersenyum, “Iya, Ra. Hidup akan
terus membawa kita pada berbagai tingkatan ujian. Kakak udah selesai
dari urusan patah hati. Tapi masih diuji dengan banyak hal kok. Kamu kan
tahu masalah Kakak banyak.”
Ra tersenyum lagi, ia teringat Kakaknya
yang bertahan menghadapi pernikahan jarak jauh karena suaminya harus
mengabdi di pedalaman Kalimantan. Sedangkan Vivian harus tinggal di
Bandung.
“Kak, Kakak pernah nggak kesel sama Bang Fadel?”
“Ya pasti pernah lah, Sayang. Karena,
ketika kita akhirnya bertemu dengan Prince Charming yang bisa dinyanyiin
Lebih Indah-nya Adera sekalipun, hati tetaplah hati, mudah sakit jika
sandarannya tidak Allah. Jadi, mari mulai kembali menata cinta kita
untuk Allah saja. InsyaAllah urusan lainnya akan dimudahkan oleh Allah.
Gitu.”
“Hmm.. Kayaknya aku harus catat semua kalimat Kakak deh.”
“Nggak usah, nanti ada di komik Kakak selanjutnya. Judulnya ‘Adikku yang Galau‘. Hahaha.”
“Ih, nggak mau lah, Kak. Aku kan nggak galau.”
“Masa?”
Mereka akhirnya tertawa. Pembicaraan
pagi hari itu berakhir seiring berderingnya bunyi ponsel milik Vivian.
Fadel, suaminya, baru saja mengabari bahwa ia sudah di taksi menuju
rumah. Tentu saja Vivian terkejut. Bukankah jadwal kepulangan suaminya
harusnya masih sebulan lagi? Ah, ia tidak peduli. Senyumnya merekah.
Barangkali begitulah hadiah keikhlasan.
***

Komentar
Posting Komentar